Tim penyelamat dari Provinsi Yunnan, China, tiba di Yangon, Myanmar, pada Sabtu (29/3) pagi setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang negara tersebut sehari sebelumnya. Bencana ini mengakibatkan 144 orang tewas dan 732 lainnya terluka, serta merusak banyak bangunan di berbagai wilayah terdampak. Situasi darurat ini membuat pemerintah Myanmar meminta bantuan dari komunitas internasional untuk mempercepat upaya penyelamatan dan pemulihan.
Sebanyak 37 anggota tim penyelamat dikirim dari China dengan membawa peralatan canggih, seperti detektor kehidupan, sistem peringatan dini gempa, serta drone guna mempercepat proses pencarian korban. Tim ini berangkat dari Bandara Internasional Kunming Changshui di Yunnan sekitar pukul 06.00 pagi dan segera bergabung dengan tim penyelamat lokal begitu tiba di Myanmar. Kehadiran mereka diharapkan dapat membantu mengevakuasi korban yang masih terjebak di reruntuhan serta memberikan pertolongan pertama bagi warga yang membutuhkan.
Sementara itu, pemerintah Myanmar terus berupaya menyalurkan bantuan bagi para penyintas dan memulihkan infrastruktur yang rusak akibat gempa. Jenderal Min Aung Hlaing, Ketua Dewan Administrasi Negara Myanmar, telah menyerukan bantuan dari berbagai negara untuk mendukung proses rehabilitasi. Hingga kini, operasi pencarian dan distribusi bantuan masih berlangsung, dengan fokus utama pada daerah yang mengalami dampak paling parah. Meskipun tantangan di lapangan cukup besar, kerja sama antara tim penyelamat lokal dan internasional terus dilakukan untuk memastikan pemulihan berjalan dengan cepat dan efektif.