Trump Ancam Hancurkan Houthi, Desak Iran Hentikan Dukungan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (19/3) menegaskan bahwa Iran harus segera menghentikan segala bentuk dukungan yang diduga diberikan kepada kelompok Houthi di Yaman. Ia memperingatkan bahwa jika Teheran terus memasok bantuan, kelompok pemberontak tersebut akan dihancurkan sepenuhnya. Trump mengklaim bahwa Iran telah mengurangi keterlibatannya, tetapi masih mengirimkan pasokan dalam jumlah besar. Meski demikian, tidak jelas apakah pernyataannya itu berdasarkan laporan intelijen resmi atau hanya informasi dari media.

Dalam unggahan di media sosial, Trump menegaskan bahwa Iran harus menghentikan pengiriman pasokan tersebut segera, agar Houthi berjuang sendiri. Ia menyatakan bahwa kelompok itu sudah berada di ambang kekalahan dan serangan yang mereka terima akan semakin parah. Menurutnya, pertempuran ini tidak akan pernah adil bagi Houthi, yang pada akhirnya akan musnah sepenuhnya.

Di hari yang sama, media lokal melaporkan serangan udara baru yang dilancarkan AS terhadap wilayah utara dan barat Yaman. Sementara itu, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dalam siaran televisi mengklaim pihaknya telah menargetkan kapal induk USS Harry Truman di Laut Merah menggunakan rudal dan pesawat nirawak. Serangan itu disebut sebagai yang keempat dalam kurun 72 jam.

Pada Selasa malam, kelompok Houthi mengumumkan kematian 10 perwira militernya akibat serangan AS. Anadolu melaporkan bahwa sejak Sabtu, lebih dari 60 serangan udara telah dilancarkan AS di Yaman, menewaskan lebih dari 50 orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan Houthi terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel di Laut Merah, Laut Arab, Selat Bab al-Mandab, dan Teluk Aden semakin mengganggu perdagangan global. Mereka mengklaim tindakan ini sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza. Serangan sempat dihentikan saat gencatan senjata antara Israel dan Hamas diumumkan pada Januari, namun kembali berlanjut setelah Israel memblokir bantuan kemanusiaan ke Gaza pada 2 Maret.

Ketegangan Meningkat: AS Peringatkan Rusia Terkait Serangan Houthi

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menghubungi Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, untuk menyampaikan informasi terkait operasi militer yang dilakukan AS terhadap kelompok Houthi di Yaman. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, menegaskan bahwa serangan yang dilakukan kelompok Houthi terhadap kapal militer dan komersial AS di Laut Merah tidak akan dibiarkan dan akan mendapatkan balasan yang tegas.

Selain membahas serangan terhadap Houthi, Rubio dan Lavrov juga mendiskusikan langkah-langkah lanjutan setelah pertemuan mereka di Arab Saudi. Keduanya sepakat untuk terus berupaya memperbaiki komunikasi antara Washington dan Moskow guna menjaga stabilitas global. Sementara itu, militer AS telah melancarkan serangan udara ke wilayah Yaman yang menargetkan kelompok Houthi dan menyebabkan sedikitnya 19 korban jiwa. Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa serangan lebih lanjut akan dilakukan jika kelompok tersebut terus mengancam kapal dagang di Laut Merah.

Sejak akhir 2023, kelompok Houthi telah melancarkan berbagai serangan menggunakan rudal dan drone terhadap kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Israel. Mereka mengklaim bahwa serangan ini merupakan bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina di Gaza. Namun, ketika Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata, Houthi menghentikan serangan mereka. Ketegangan kembali meningkat ketika Israel memblokir bantuan kemanusiaan ke Gaza pada 2 Maret, yang kemudian memicu ancaman baru dari Houthi untuk melanjutkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi perairan Laut Merah.

Houthi Beri Israel Tenggat Waktu, Ancam Lanjutkan Serangan di Laut Merah

Pemimpin kelompok Houthi, Abdul Malik al-Houthi, memberikan Israel tenggat waktu empat hari untuk mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, Houthi mengancam akan kembali melancarkan operasi militer di perairan Laut Merah. Peringatan ini disampaikan dalam pidatonya yang disiarkan oleh TV Al-Masirah, yang berafiliasi dengan kelompok tersebut.

Al-Houthi menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati, serta menggunakan strategi kelaparan sebagai senjata perang terhadap warga Gaza. Ia menegaskan bahwa tindakan semacam ini tidak bisa dibiarkan. “Kami memberikan waktu empat hari kepada para mediator,” ujarnya. “Jika dalam periode itu bantuan tetap dicegah masuk ke Gaza dan penyeberangan masih ditutup, kami akan kembali menyerang kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel.”

Sejak November 2023, kelompok Houthi telah melakukan serangan rudal dan drone ke arah target Israel serta kapal-kapal dagang di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza. Serangan-serangan tersebut meningkatkan ketegangan di kawasan dan memicu respons dari negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.

Sementara itu, pada Minggu, Israel memblokir masuknya bantuan ke Gaza setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak memulai tahap kedua negosiasi gencatan senjata dengan Hamas. Sejak serangan Israel dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 48.400 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 111.800 lainnya mengalami luka-luka. Gencatan senjata yang sempat berlaku sejak 19 Januari telah memungkinkan pertukaran tahanan, namun belum menghasilkan solusi jangka panjang bagi krisis kemanusiaan yang terjadi.

Kapal Perang AS Menembak Jatuh Jet Tempur FA-18 Di Laut Merah

Pada tanggal 22 Desember 2024, sebuah insiden yang tidak terduga terjadi di perairan Laut Merah, ketika sebuah kapal perang Amerika Serikat secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat tempur FA-18 Hornet milik Angkatan Laut AS. Insiden ini memicu kekhawatiran mengenai keselamatan personel militer AS di wilayah tersebut. Kejadian ini terjadi ketika pesawat tersebut melakukan latihan rutin bersama beberapa armada tempur di kawasan tersebut.

Menurut laporan yang diterima, insiden ini terjadi akibat kesalahan sistem senjata pada kapal perang tersebut. Sumber militer yang anonim menyatakan bahwa sistem radar kapal mendeteksi pesawat FA-18 sebagai ancaman, meskipun pesawat tersebut sedang dalam misi latihan rutin. Proses komunikasi yang kurang lancar dan respons yang terburu-buru dari awak kapal menyebabkan peluncuran misil yang menargetkan pesawat tempur tersebut. Misil tersebut berhasil menghancurkan pesawat dalam hitungan detik setelah peluncuran.

Setelah insiden ini, Angkatan Laut AS segera meluncurkan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut. Para pejabat militer AS berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional dan sistem senjata yang ada pada kapal perang tersebut. Sementara itu, identitas pilot yang terlibat dalam insiden ini belum diumumkan, namun dilaporkan bahwa ia berhasil eject dan dalam kondisi aman.

Kejadian ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah, di mana AS sudah terlibat dalam berbagai operasi militer. Insiden ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengendalian senjata otomatis di kapal perang modern dan dampaknya terhadap operasi militer di wilayah sensitif. Sebagai respons, beberapa pihak mengkhawatirkan potensi terjadinya insiden serupa yang bisa meningkatkan risiko konflik di Laut Merah.