Marco Rubio Hadiri Pertemuan NATO di Brussels untuk Fokuskan Pada Pertahanan dan Ukraina

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, dijadwalkan untuk melakukan kunjungan ke Brussels, Belgia, pada 2 hingga 4 April mendatang untuk berpartisipasi dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Kunjungan ini diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS pada Senin (31/3), yang menyebutkan bahwa kunjungan Rubio akan fokus pada dua isu utama, yaitu penggalangan investasi yang lebih besar di sektor pertahanan di kalangan negara sekutu NATO dan memperkuat dukungan internasional untuk Ukraina. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, menjelaskan bahwa Rubio akan menekankan pentingnya peningkatan investasi dalam pertahanan untuk memastikan stabilitas global dan mengamankan perdamaian abadi di Ukraina yang sedang terlibat dalam konflik.

Selain itu, dalam pertemuan tersebut, Rubio juga diperkirakan akan membahas isu terkait ancaman yang berkembang dari China, yang dianggap oleh Washington sebagai ancaman strategis terhadap NATO dan wilayah Indo-Pasifik. Pada sesi khusus NATO, Rubio akan menyoroti ancaman yang ditimbulkan oleh China terhadap stabilitas kawasan Euro-Atlantik serta Indo-Pasifik. Kunjungan ini juga akan meliputi diskusi persiapan untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang akan digelar di Den Haag musim panas ini. Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan global, dengan sekutu-sekutu NATO yang mendesak komitmen lebih kuat terhadap pertahanan kolektif dan peningkatan koordinasi menghadapi tantangan keamanan global yang berkembang.

G7 Bahas Ukraina, China, dan Stabilitas Global di Kanada

Para menteri luar negeri dari kelompok G7 berkumpul di La Malbaie, Quebec, Kanada, pada Rabu, 12 Maret, untuk membahas isu-isu global yang mendesak, termasuk konflik Ukraina dan dinamika kekuatan China di Indo-Pasifik. Pertemuan ini melibatkan diplomat dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, serta Uni Eropa. Pembicaraan resmi dijadwalkan dimulai pada Kamis, hanya beberapa hari setelah Washington sepakat untuk melanjutkan bantuan militer dan intelijen kepada Ukraina. Kesepakatan ini membawa harapan baru bagi proses perdamaian yang sebelumnya mengalami kebuntuan akibat ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang baru saja kembali dari Arab Saudi, mengungkapkan bahwa pejabat senior Ukraina telah menyatakan kesiapan mereka untuk menerima usulan gencatan senjata selama 30 hari. Namun, kesepakatan ini masih memerlukan persetujuan dari Rusia, dengan Trump menekankan bahwa keputusan akhir ada di tangan Kremlin. Rusia kini diharapkan memberikan respons positif terhadap upaya penghentian konflik yang telah berlangsung sejak Februari 2022. Sementara itu, pertemuan G7 akan membahas berbagai isu strategis lainnya, termasuk keamanan maritim, stabilitas di Timur Tengah, serta peran kelompok ini dalam menjaga tatanan internasional.

Sebelum berangkat ke Kanada, Menteri Luar Negeri Jepang, Takeshi Iwaya, menekankan pentingnya menjaga kesatuan dan kerja sama G7 di tengah perubahan geopolitik yang dinamis. Jepang, sebagai satu-satunya anggota G7 dari Asia, juga berkomitmen untuk membawa perspektif Indo-Pasifik dalam pembahasan. Pada hari terakhir pertemuan, para menteri akan bertukar pandangan mengenai tantangan dari negara-negara seperti China, Iran, dan Korea Utara, serta membahas kerja sama untuk perdamaian di Afrika. Mereka berencana mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan dukungan terhadap upaya perdamaian di Ukraina dan komitmen mereka terhadap kawasan Indo-Pasifik yang stabil dan bebas dari intervensi sepihak.

Ketegangan Oval Office: Zelenskyy Kirim Surat Permintaan Maaf ke Trump

Utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, mengungkapkan bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah mengirim surat kepada Trump sebagai bentuk permintaan maaf atas insiden yang terjadi di ruang Oval. Peristiwa tersebut menyebabkan batalnya perjanjian penting antara Washington dan Kiev terkait mineral strategis. Trump sebelumnya telah menyebut surat tersebut dalam pidatonya di hadapan Kongres AS pekan lalu.

Witkoff menegaskan bahwa surat tersebut menunjukkan sikap Zelenskyy dalam meredakan ketegangan. Ia juga menyebut bahwa berbagai diskusi telah dilakukan antara tim Amerika Serikat, Ukraina, serta pemangku kepentingan dari Eropa yang terlibat dalam negosiasi. Witkoff menilai hal ini sebagai langkah positif menuju kesepakatan. Dalam wawancara dengan Fox News, ia mengungkapkan harapannya agar perundingan bisa kembali dilanjutkan. Pernyataannya itu disampaikan sesaat sebelum ia bertolak ke Arab Saudi untuk bertemu dengan perwakilan Ukraina.

Ketegangan dalam pertemuan pada 28 Februari lalu memuncak saat Zelenskyy mempertanyakan apakah Presiden Rusia Vladimir Putin dapat dipercaya dalam negosiasi perdamaian. Ia merujuk pada berbagai perjanjian sebelumnya yang kerap dilanggar oleh Moskow sebelum melakukan invasi skala penuh ke Ukraina. Trump, di sisi lain, telah menyatakan penolakannya terhadap keanggotaan Ukraina di NATO, aliansi pertahanan transatlantik yang memerlukan persetujuan bulat dari seluruh anggotanya untuk menerima anggota baru.

Selain itu, Trump secara keliru menuding Ukraina sebagai pihak yang memulai konflik dengan Rusia. Perselisihan ini berujung pada keputusan mendadak Zelenskyy untuk meninggalkan Gedung Putih, sehingga perjanjian mineral strategis batal ditandatangani dan konferensi pers bersama dengan Trump pun dibatalkan.

Ukraina Puji Trump, Sebut Perannya Penting dalam Upaya Perdamaian

Parlemen Ukraina menegaskan bahwa dukungan dari Amerika Serikat adalah faktor utama dalam menjaga keamanan negara mereka. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin (3/3), mereka mengapresiasi peran Donald Trump dalam upaya perdamaian, menyebut keterlibatannya sebagai faktor penentu untuk mengakhiri konflik dengan Rusia. Parlemen menegaskan bahwa rakyat Ukraina menginginkan perdamaian lebih dari siapa pun dan percaya bahwa Trump memiliki peran krusial dalam mewujudkan hal tersebut, tidak hanya untuk Ukraina tetapi juga bagi stabilitas Eropa dan dunia.

Pernyataan ini muncul setelah pertemuan kontroversial antara Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih pada Jumat (28/2). Dalam pertemuan tersebut, Trump dan Wakil Presiden JD Vance beberapa kali melontarkan kritik terhadap Zelenskyy, menuduhnya kurang berterima kasih atas bantuan militer dan ekonomi yang telah diberikan AS kepada Ukraina selama bertahun-tahun. Meski demikian, Verkhovna Rada, sebagai badan legislatif tertinggi Ukraina, tetap menyambut baik inisiatif Trump dalam mendorong proses negosiasi guna mencapai perdamaian.

Selain itu, parlemen Ukraina juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Trump, Kongres AS, dan rakyat Amerika atas dukungan mereka terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina. Mereka menekankan pentingnya memperkuat hubungan strategis dengan AS, khususnya dalam eksplorasi mineral kritis yang menjadi sektor penting bagi perekonomian negara tersebut.

Di sisi lain, Trump pada hari yang sama menegaskan bahwa ia tidak percaya kerja sama antara AS dan Ukraina dalam pengembangan mineral kritis telah berakhir, meskipun ketegangan antara dirinya dan Zelenskyy terus meningkat. Pernyataan ini menambah dinamika hubungan kedua negara yang terus berkembang di tengah situasi geopolitik yang penuh tantangan.

Zelenskyy Tiba di Inggris Usai Ketegangan dengan Trump di Gedung Putih

Pesawat yang membawa Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mendarat di Bandara Stansted, Inggris, pada Sabtu (1/3). Kedatangannya berlangsung setelah konfrontasi tajam dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih sehari sebelumnya, yang menjadi sorotan media internasional.

Zelenskyy dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di Downing Street pada Sabtu sore. Keesokan harinya, Starmer akan menggelar pertemuan dengan para pemimpin Eropa untuk membahas strategi pengawasan terhadap potensi perjanjian damai di Ukraina. Starmer menegaskan bahwa keterlibatan AS dalam kesepakatan ini sangat penting. Namun, ketegangan yang terjadi antara Trump dan Zelenskyy menimbulkan ketidakpastian terkait kerja sama transatlantik dalam menyusun langkah ke depan bagi Ukraina.

Konflik antara Trump dan Zelenskyy mencuat dalam sebuah perdebatan selama 10 menit di Gedung Putih yang berlangsung dengan nada tidak diplomatis. Zelenskyy berusaha membela kebijakannya dalam menghadapi invasi Rusia yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun. Perselisihan ini menyebabkan batalnya konferensi pers serta penandatanganan perjanjian strategis terkait mineral yang sebelumnya direncanakan.

Dalam pernyataannya pada Sabtu, Starmer mengonfirmasi bahwa pertemuan tingkat tinggi akan digelar di London pada Minggu. Salah satu tokoh yang diperkirakan hadir adalah Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan. Ia akan menyampaikan pandangannya mengenai perang Rusia-Ukraina, termasuk upaya negosiasi terbaru yang diusulkan Trump.

Fidan juga akan membahas peran Turki dalam mendukung penyelesaian damai yang adil serta menegaskan komitmen terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina. Selain itu, ia diharapkan menegaskan kesiapan Ankara untuk kembali menjadi mediator dalam perundingan antara Rusia dan Ukraina, seperti yang pernah dilakukan pada Maret 2022.

Trump Tantang Inggris Hadapi Rusia, Starmer Tanggapi dengan Senyuman

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menanyakan kepada Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, apakah negaranya mampu menghadapi Rusia tanpa bantuan dari pihak lain. Pertanyaan itu disampaikan saat pertemuan mereka di Gedung Putih pada Kamis (27/2). Sebelum pertemuan tertutup berlangsung, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Inggris dapat menjaga diri dengan baik tanpa perlu banyak bantuan. Ia juga menegaskan bahwa jika Inggris memang membutuhkannya, Amerika Serikat akan selalu siap mendukung.

Menanggapi pernyataan tersebut, Starmer menyatakan rasa bangganya terhadap negaranya dan menyoroti eratnya hubungan antara Inggris dan Amerika Serikat. Ia menggambarkan kerja sama kedua negara sebagai aliansi terbesar di dunia dan menegaskan bahwa mereka selalu saling mendukung. Saat Trump kembali bertanya apakah Inggris benar-benar bisa menghadapi Rusia sendiri, Starmer hanya tersenyum dan menggelengkan kepala sambil menjawab singkat, “Benar…”

Pertemuan ini berlangsung di tengah upaya Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan strategis dengan Ukraina, yang berpotensi membuka jalan bagi berakhirnya konflik di negara tersebut. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dijadwalkan tiba di Washington pada Jumat untuk menandatangani perjanjian yang menurut Trump sangat besar, termasuk kerja sama dalam bidang logam tanah jarang.

Dalam konferensi persnya, Starmer menegaskan bahwa Inggris berkomitmen mendukung upaya perdamaian yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Ia juga menekankan bahwa kesepakatan yang dicapai harus dihormati dan dipatuhi oleh semua pihak yang terlibat.

Kanada Perkuat Aliansi Intelijen Eropa di Tengah Ketegangan dengan AS

Kanada berencana memperdalam kerja sama intelijen dengan negara-negara Eropa seiring meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat terkait berbagai isu global, termasuk konflik di Ukraina. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Melanie Joly, seperti dilaporkan oleh Canada Press pada Selasa, 25 Februari 2025. Joly menegaskan bahwa Kanada perlu memahami dinamika global secara lebih baik demi melindungi kepentingan nasionalnya.

Menurutnya, membangun aliansi keamanan yang solid dengan Inggris dan negara-negara Eropa lainnya menjadi semakin krusial di tengah situasi dunia yang terus berubah. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap sikap AS yang berbeda pandangan dengan para sekutunya, terutama setelah Washington memberikan suara menentang resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Ukraina.

Joly menambahkan bahwa Kanada terus berkomunikasi dengan Inggris, Australia, dan mitra-mitra Eropa lainnya terkait kerja sama intelijen. Selain itu, Kanada juga ingin menjaga hubungan dengan negara-negara yang memiliki sudut pandang berbeda, seperti Afrika Selatan, India, dan Arab Saudi, guna memastikan stabilitas hubungan diplomatiknya.

Sementara itu, di hari yang sama, Financial Times (FT) melaporkan bahwa penasihat senior AS, Peter Navarro, menyebut Kanada berisiko dikeluarkan dari aliansi berbagi intelijen Five Eyes. Langkah tersebut dikabarkan sebagai bagian dari strategi Presiden Donald Trump untuk lebih mengendalikan Kanada. Namun, Navarro membantah laporan FT, menuduh media kerap menyampaikan berita tanpa sumber yang jelas. Ia juga menegaskan bahwa keamanan nasional AS tetap menjadi prioritas utama yang tidak akan dikompromikan.

Demi Perdamaian dan NATO, Zelensky Siap Mundur dari Kursi Kepresidenan

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan kesiapannya untuk mundur dari jabatannya jika langkah tersebut dapat mempercepat keanggotaan Ukraina di NATO. Pernyataan ini disampaikan pada konferensi pers di Kyiv, Minggu (23/2/2025), di tengah tekanan internasional dan kritik tajam dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut Zelensky sebagai seorang diktator.

Mengutip AFP, Senin (24/2/2025), Zelensky menegaskan bahwa keanggotaan NATO menjadi bagian penting dari upaya mengakhiri konflik berkepanjangan dengan Rusia. “Jika kepergian saya dari jabatan ini dapat membuka jalan menuju perdamaian dan keanggotaan Ukraina di NATO, saya siap untuk itu,” ujar Zelensky.

Ketegangan antara Zelensky dan Trump meningkat setelah pertemuan antara pejabat AS dan Rusia di Arab Saudi—dialog tingkat tinggi pertama dalam tiga tahun terakhir—tanpa melibatkan Ukraina maupun negara-negara Eropa. Pertemuan ini dianggap merusak upaya Barat dalam mengisolasi Kremlin. Merespons hal ini, Trump menuding Ukraina sebagai pemicu perang dan meragukan popularitas Zelensky di dalam negeri, meskipun klaim tersebut bertentangan dengan hasil jajak pendapat independen.

Meski mendapat kritik keras, Zelensky menyatakan bahwa dirinya tidak tersinggung oleh komentar Trump. Bahkan, ia siap membuktikan dukungan rakyat melalui pemilu setelah darurat militer di Ukraina berakhir. “Saya ingin bertemu dengan Trump agar dapat saling memahami. Dukungan dan jaminan keamanan dari Amerika Serikat sangat krusial bagi kami,” tegasnya.

Di sisi lain, Zelensky mengungkapkan adanya kemajuan dalam pembahasan terkait akses istimewa Amerika Serikat terhadap sumber daya strategis Ukraina. Langkah ini diharapkan dapat mempererat hubungan kedua negara sekaligus memperkuat posisi Ukraina di panggung internasional.

Trump Sebut Serangan Rusia ke Ukraina, Ini Salah Zelensky dan Biden

Washington – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyampaikan pandangannya terkait konflik yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina. Dalam pernyataannya, Trump mengakui bahwa Rusia bertindak sebagai agresor, namun ia juga menyalahkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan mantan Presiden AS Joe Biden atas kegagalan mereka dalam mencegah perang.

Menurut Trump, kesepakatan diplomatik yang lebih baik seharusnya bisa dilakukan sejak awal, sehingga invasi Rusia tidak perlu terjadi. Ia bahkan mengaku frustrasi dengan kepemimpinan Zelensky, yang dinilainya tidak memiliki posisi tawar kuat dalam perundingan dengan Rusia.

“Saya sudah mengamati cara Zelensky bernegosiasi selama bertahun-tahun. Dia tidak memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam diplomasi ini, dan itu sangat mengecewakan,” ujar Trump.

Trump: Kehadiran Zelensky di Forum Internasional Tak Banyak Berpengaruh

Selain mengkritik cara Zelensky menangani negosiasi, Trump juga mempertanyakan efektivitas kehadiran pemimpin Ukraina tersebut dalam berbagai pertemuan internasional. Ia berpendapat bahwa meskipun Zelensky sering hadir dalam forum global, kehadirannya tidak memberikan dampak berarti terhadap jalannya konflik.

“Dia mengeluh karena tidak diundang dalam beberapa pertemuan. Tapi kenyataannya, dia sudah menghadiri banyak pertemuan penting, dan tetap saja tidak ada perubahan besar,” ungkap Trump.

Pernyataan ini muncul setelah Keith Kellogg, utusan khusus Trump untuk Ukraina, sempat memuji pertemuan dengan Zelensky di Kyiv yang diklaim membawa “harapan baru”. Namun, Trump sendiri tidak sependapat dan menilai Zelensky belum mampu membawa Ukraina ke arah solusi yang lebih baik.

Perang Bisa Dihindari dengan Negosiasi yang Lebih Baik

Trump menegaskan bahwa konflik Rusia-Ukraina seharusnya tidak perlu terjadi, asalkan ada strategi diplomasi yang lebih efektif. Ia menilai bahwa gagalnya para pemimpin dunia dalam merancang kesepakatan internasional menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi.

“Perang ini seharusnya tidak perlu terjadi. Rusia bisa dicegah untuk tidak menyerang jika ada pemimpin yang tahu bagaimana menghadapi situasi ini dengan lebih bijak,” kata Trump.

Trump juga menyebut bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin sebenarnya bersedia mencapai kesepakatan damai sebelum konflik pecah. Namun, menurutnya, kesalahan diplomatik membuat negosiasi gagal dan akhirnya mendorong Rusia untuk mengambil tindakan militer.

“Putin tidak harus melakukan invasi, jika ada orang yang tahu bagaimana berbicara dengannya dan menghindari eskalasi konflik,” tambahnya.

Kesepakatan Baru AS-Ukraina Sedang Dirancang

Di tengah kritik yang dilontarkan Trump, Keith Kellogg tetap memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Zelensky, yang disebutnya sebagai pemimpin yang berani dan teguh dalam menghadapi ancaman Rusia. Bahkan, laporan terbaru menyebut bahwa Amerika Serikat dan Ukraina tengah merancang kerja sama strategis, yang melibatkan dukungan militer serta akses AS terhadap sumber daya mineral Ukraina.

Menurut laporan dari The Wall Street Journal, kedua negara hampir mencapai kesepakatan bilateral baru yang berpotensi memperkuat hubungan mereka. Zelensky sendiri optimis bahwa kesepakatan ini akan memberikan dampak positif bagi Ukraina, dengan rincian kerja sama yang diperkirakan akan difinalisasi dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Komentar Donald Trump tentang perang Rusia-Ukraina kembali memicu perdebatan. Ia menegaskan bahwa perang ini bisa dicegah, jika ada pendekatan diplomasi yang lebih baik. Sementara Zelensky tetap berusaha mencari dukungan internasional, perundingan antara AS dan Ukraina masih berlangsung untuk memperkuat aliansi mereka di tengah konflik yang masih berlanjut.

Jenderal Inggris Desak Eropa Beri Jaminan Keamanan Bagi Ukraina Jika AS Enggan Bertindak

Mantan Kepala Angkatan Darat Inggris, Jenderal Nick Carter, menyoroti pentingnya peran negara-negara Eropa dalam memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina, terutama jika Amerika Serikat (AS) tidak bersedia melakukannya. Menurutnya, menjaga kedaulatan Ukraina merupakan kunci utama untuk mencapai perdamaian yang adil, sehingga Eropa perlu memiliki pendekatan yang jelas terhadap agresi Rusia. Carter juga menyebut Inggris berpotensi memimpin upaya ini, seiring pertemuan mendatang antara Perdana Menteri Keir Starmer dan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Sebelumnya, langkah AS untuk mengakhiri konflik di Ukraina telah memicu ketegangan antara Trump dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, serta menimbulkan diskusi hangat di kalangan pemimpin Eropa. Pemerintahan Trump baru-baru ini mengumumkan rencana membuka negosiasi langsung dengan Rusia untuk mencapai kesepakatan damai, sejalan dengan kebijakan AS yang ingin mengurangi keterlibatannya dalam keamanan Eropa.

Meski begitu, pernyataan Trump yang kontroversial terkait Ukraina dan Zelensky menimbulkan kekhawatiran akan arah negosiasi tersebut. Pada Kamis (20/2/2025) malam, Zelensky menegaskan bahwa Ukraina membutuhkan jaminan keamanan yang tegas dan dapat diandalkan.

Jenderal Carter, yang menjabat sebagai Kepala Staf Pertahanan Inggris pada 2018–2021, menekankan bahwa Ukraina harus mendefinisikan sendiri arti dari solusi damai yang adil. “Namun, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya harus memperjelas sikap mereka mengenai batas minimum yang bisa diterima,” ujarnya dalam program BBC One Question Time yang membahas perang Ukraina. “Pada intinya, kedaulatan Ukraina di masa depan harus dijamin. Jika AS tidak bersedia memenuhinya, maka negara lain harus mengambil peran tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, Perdana Menteri Keir Starmer sebelumnya menyatakan bahwa jaminan keamanan dari AS merupakan faktor kunci untuk mencegah agresi Rusia. Namun, ia juga menegaskan bahwa Inggris siap mengirim pasukan penjaga perdamaian jika diperlukan.

Di sisi lain, Trump menyatakan awal pekan ini bahwa ia tidak keberatan jika negara-negara Eropa mengirim pasukan penjaga perdamaian, tetapi menegaskan bahwa AS tidak perlu terlibat langsung. Washington sendiri telah mendorong negara-negara Eropa untuk memikul tanggung jawab lebih besar dalam menjaga pertahanan kawasan mereka.